Lewati ke konten

Kisruh

Kabar Nasional
Sosial
Sudut Lain
Musik
Lifestyle
Opini
Podcast
Tulis

rizamuthohar

Halo! Saya rela mentraktir menu kopi termahal untuk ngobrol berjam-jam.
Jangan ragu hubungi saya!
Saat ini sedang memasak:
@payamanlab
@ragommuda.id

Instagram post 17936272632012367 Instagram post 17936272632012367
Instagram post 18088872118831780 Instagram post 18088872118831780
Menyeduh kopi adalah meracik sunyi. Menjadi hangat Menyeduh kopi adalah meracik sunyi.
Menjadi hangat untuk mengingat.

Di antara uap yang perlahan naik, 
rindu ikut melayang mencari tempat pulang.

Biji ikut bercerita tentang perjalanan panjang dari tangan petani ke konvensi.

Pun aroma kopi mengisi ruang mengajak tenang.
Tidak pernah bertemu dengan sang ayah, bukan berar Tidak pernah bertemu dengan sang ayah, bukan berarti M. Fayadh Al Falih (15) tidak mengenali sosoknya. Berkat sang ibu, pelajar asal Pamulang itu memiliki semangat meneguhkan diri untuk berdiri menggapai mimpi. Ini menjadi pesan tak tertulis secara turun-temurun dalam keluarga, sebagaimana yang dulu ditekankan oleh sang ayah tatkala masih ada.

Fayadh anak bungsu dari empat bersaudara. Ia menjadi satu-satunya yang tak pernah melihat dan bertemu dengan sang ayah. Pertama dan kedua kini tengah menempuh pendidikan tinggi. Sedang ketiga dan dirinya masih mengumpulkan ilmu di pesantren. 

Di sebuah pesantren di Jawa Barat, yang ia anggap sebagai rumah kedua, ia menemukan keluarga baru. Ia belajar arti kebersamaan, kemandirian, dan nilai-nilai luhur keislaman. Mahfudat yang ia pelajari, menjadi pedoman baginya menjalani setiap hari. 

“Dari sekeluarga memang tradisinya adalah santri. Dari kakek, umi, abi, dan sekarang anak-anaknya pun semuanya diusahakan untuk masuk pesantren,” ungkapnya.

Kehidupan di pesantren telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan ikhlas. Ia mengaku siap menghadapi segala tantangan hidup dengan penuh keyakinan.

Mimpi untuk menjadi pengusaha sukses pun membara di hatinya, namun ia tak melupakan akar spiritualnya. Untungnya, pesantren mampu memfasilitasinya. Di samping belajar pelajaran Islam, ia belajar menghitung rumusan, merawat peternakan, menyirami perkebunan, bahkan memegang peraturan. 

Seperti seorang petani yang merawat tanamannya, Fayadh juga merawat imannya. Ia sadar, iman membutuhkan perawatan agar terus tumbuh subur. Dengan tekad yang bulat, ia yakin akan mampu mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.

Seperti domba-domba yang ia gembala, Fayadh tumbuh kuat dan tangguh. Ia siap merumput di padang kehidupan, menggapai cita-citanya yang tinggi. Dengan semangat yang tak pernah padam, ia yakin akan mampu meraih kesuksesan.

#harisantrinasional #santrinusantara
Instagram post 18046533262688637 Instagram post 18046533262688637
Belum ditemukan sumber yang begitu valid bagaimana Belum ditemukan sumber yang begitu valid bagaimana nama Tawabi ini muncul. Dalam perkiraanku, sebab daerah ini dulunya dalam kawasan empat kesultanan Islam di Maluku, Tawabi barang berasal dari bahasa arab. Antara itu berarti orang-orang yang bertaubat atau berarti orang-orang pengikut. 

Aku beranjak dari Kesultanan Ternate menuju Kesultanan Bacan. Perjalanan laut memakan waktu 9 jam dengan kapal perintis, pukul 22.00-07.00 WIT. Berlanjut pakai speedboat dari Labuha, Bacan Barat, menuju Desa Tawabi bertempuh 1 jam. 

Di desa ini, masyarakat mendapatkan akses air tawar nan bersih dari sumur-sumur galian di dekat bibir pantai. Atau mungkin bukan sumur. Hanya galian 1 atau 2 meter.

Ada 6 galian pernah dimanfaatkan. Hanya tersisa 2 yang masih bisa digunakan. Dua lagi pasif, dua lainnya berair namun payau. Dua aktif itu dimanfaatkan oleh 130 KK. Ibu Nur salah satunya.

Dari rumahnya, berdurasi 15 menit, ia menuju sumber air dengan perahu ketinting. Sekiranya mungkin ini cukup untuk mengangkut dirinya berserta 5 jeriken 20 liter. Berharap dapat air lebih, ia tambah lagi 2 ember berkapasitas sama. 

Sayang, hari itu bukan hari keberuntungan. Sengaja ia datang sangat pagi saat belum adanya sinar matahari. Harapnya dapat giliran pertama. Benar, namun air belum keluar. Ia memilih menunggu. Hingga matahari sudah naik 30 derajat, air pun tak kunjung mencuat.

"Ini tadi saya habis subuh ke sini. Tapi karena air belum naik, saya pulang lagi. Habis duhur saya ke sini lagi, hanya sedikit saja airnya," kata Nur kepadaku.

Sulitnya masyarakat Tawabi mendapatkan air tawar bersih sudah berlangsung sangat lama, bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Adanya galian air itu pun baru mulai ada pada tahun 2007. Mirisnya lagi, untuk mendapatkan air layak konsumsi, warga harus merogoh kocek lebih dalam, karena harus membeli satu galon air berharga 15 ribuan.
Sebagai barista, ia juga bertugas melakukan kalibr Sebagai barista, ia juga bertugas melakukan kalibrasi, memastikan semua alat siap dipakai, mengecek berbagai catatan, hingga menyiapkan fasilitas pelanggan.

Pressure bar hingga boiler telah sampai pada angka yang ditentukan, menandakan mesin kopi siap digunakan. Yogi mulai bergegas mengenakan apron cokelatnya, mengaitkan setiap ujung tali membentuk simpul menyilang. Ia mulai siap menuangkan pesanan dan menyajikannya ke meja-meja pelanggan sesuai pesanan. 

Ditemani Diti, ia sesekali larut dalam candaan hingga terpecah oleh suara pelanggan memesan, atau suara azan salat berkumandang. 

Pilantrokopi menjadi salah satu program zakat produktif, turunan dari unit usaha Koperasi Solok Sirukam. Program ini menjadi bagian dari konsep filantropreneur dengan menggabungkan kewirausahaan yang dikelola secara profesional berbasis dana filantropi. Kedai kopi ini dibangun sebagai hilirisasi program pemberdayaan petani kopi Solok Sirukam oleh Dompet Dhuafa yang sudah ada sejak tahun 2019 silam.

Ayah dan ibunya sudah lebih dulu menjadi petani kopi tapi kelam, melahirkan 4 anak generasi Sirukam. Atas pengalaman mirisnya, keduanya tidak setuju anak-anaknya mewarisi pekerjaan pendahulunya. 

"Janganlah berkebun. Biarlah orangtua saja di sini. Anak-anak kerja yang pasti-pasti saja," kata Yogi menirukan nasihat sang ayah.

Ketiga saudara Yogi pun enggan berkebun. Padahal lahan adalah warisan turun-temurun. Artinya kebun bertatus milik pribadi. Sekitar 1 hektar luas kebun kopi yang dimiliki keluarga kecil ini.

Jalan berbeda dipilih Yogi. Ia teguh ingin melanjutkan warisan tradisi. Ia bertekad mengangkat harkat dan martabat petani kopi. Merekalah kunci di balik seduhan kopi nikmat dalam setiap gelas dingin maupun hangat.

Mulanya, anak muda lulusan sekolah pada tahun 2021 ini belum banyak mengetahui tentang kopi. Ia mulai tertarik yaitu setahun setelah kelulusan, tahun 2022, di Sirukam, saat membantu ayahnya berkebun.

"Alhamdulillah, sekarang sudah tidak perlu minta ke orangtua. Sudah punya penghasilan sendiri dan sudah bisa menabung dari hasil uang sendiri," ucapnya.

Yogi akan terus berusaha memperbanyak pengalaman tentang dunia perkopian. Termasuk bagaimana bisnis kopi berjalan
Instagram post 18040631200547708 Instagram post 18040631200547708
Dikenal dengan ibukota Damaskus, peradaban era Dau Dikenal dengan ibukota Damaskus, peradaban era Daulah Umayyah ini sudah terbangun sebagai kota manusia-manusia terutus. Fatihnya Khalid bin Walid (633 M), dikenal dengan Pedang Sang Maha Wahid. 

Jejak adanya Islam yang megah, terlihat di Damaskus dengan gagahnya Masjid Umayyah. Dari mulanya tempat pemujaan bangsa Yunani, terubah menjadi gereja nasrani, hingga kini jadi masjid islami.

Masih tersisa banyak peradaban yang pernah tertoreh di kawasan Syam. Damaskus hanya sebagian di Suriah yang paling mencolok dengan keindahan. Diyakini, Habil dimakam di dataran tinggi negeri ini.

Berkesempatan mengunjungi Suriah dan Yordania, bagi saya, negeri ini setiap bagian sudutnya sangat mempesona. Dua negara yang menyimpan banyak sejarah peradaban manusia, sejak zaman romawi hingga umawi. Warganya terkenal ramah tutur ucap dan penuh sikap hormat.
Dengan mengendarai sepeda motor renta melewati hut Dengan mengendarai sepeda motor renta melewati hutan, ia menempuh setengah jam untuk sampai di gerbang depan. Sesampainya titik pengantaran, ia langsung bertolak menuju sekolah dasar tempatnya mengajar. Sekitar 15 menit sekiranya masa tempuh menuju sana. Begitu pun saat pulang sekolah, ia jemput anak-anaknya sebelum pulang ke rumah.

Guru Ati sapaannya, salah seorang guru honorer di SDN 6 Wawonii Barat adalah single parent  yang hebat. Selama 17 tahun hingga kini, ia telah mengabdikan diri mencerdaskan generasi muda Wawonii. Selain mengajar, Guru Ati tetap harus membimbing kedua anak perempuannya belajar. Pernah merasakan putus sekolah menjadikannya paham betul bagaimana pentingnya ilmu.

Di dalam rumah, di luar jam ajar, ia membantu usaha adiknya mengurus usaha kopra (kelapa yang dikeringkan). Peran ganda yang ia jalankan ini menjadi bukti ikhtiarnya mencukupi kebutuhan diri dan anak-anak setiap hari. 

“Saya sampai tidak bisa menceritakan bagaimana senangnya saya, ketika saya mengajar kemudian anak-anak memahami. Ada rasa kepuasan yang besar pada diri saya," ucapnya.

Sejak tahun 2005 saat ia mulai mengajar, yang dikejarnya bukanlah uang. Setulus hati ia ingin anak-anak Wawonii cerdas dengan baik budi pekerti. Awal mengajar ia merasa terlalu jauh dari rumah. Rasa cintanya yang tinggi terhadap anak-anak, menjadikannya senang mengajar meski imbalannya tak layak.

	Harapannya terhadap siswa-siswa didik tak akan pernah padam. Guru Ati terus berupaya memberikan pengajaran yang terbaik dan mendalam. Saat ini, ada sebanyak 50 anak yang dia ampu. Kondisi sekolah yang tak ideal menjadi tantangan baginya. Terkadang, para siswa rela belajar di ruang perpustakaan, atau bahkan di luar ruangan. Padahal untuk menuju sekolah, Guru Ati harus menempuh jarak yang cukup jauh nan terjal, belum lagi saat musim hujan.
Throwback 1 year ago (16/7/2022) 📷 @nostalgicmo Throwback 1 year ago 

(16/7/2022)

📷 @nostalgicmoment @athfm
Tak lama berselang. Siang mulai datang membawa ter Tak lama berselang. Siang mulai datang membawa terik yang menyengat tanpa halang. Dengan tubuh basah penuh keringat, pria 38 tahun itu sesekali duduk untuk istirahat, alih-alih mengencangkan ikatan kaki supaya tetap ketat. 

Heri Wahyudi asmanya. Sudah 7 tahun terakhir, pria kelahiran Bojong Gede Bogor itu melakoni pekerjaan sebagai juru parkir. Siapa sangka. Perawakan yang terlihat perkasa, ternyata tunadaksa. 

Di rumahnya, Kampung Jati Bogor, berbagai suara kicauan menyambut setiap orang yang datang berkunjung, hingga berbentuk bak sebuah rangkaian nada yang tak berujung. Lantunan berpola itu datang dari dalam sangkar-sangkar bergelantung. Belum selesai burung menyambut kami, seorang wanita 48 tahun turut menyapa dengan senang hati. Sembari menawarkan hidangan, Heri lanjut meneruskan kalam.

“Sehari-hari pekerjaan saya ya ini, jaga warung bareng istri sambil ngerawat dan jual-beli burung. Kalau Senin dan Kamis saya jaga (menjaga) parkiran di toko minimarket,” ucapnya menyambung obrolan.

Sebelum kondisinya seperti saat ini, Heri adalah pedagang asongan di gerbong kereta api. Setiap malam, usai lelah seharian berdagang, Heri bersama teman-temannya beristirahat sembari nongkrong di sekitar rel perlintasan. 

Suatu malam ia hanya sedirian di rel. Tak didengarnya apapun, kecuali suara hembusan angin berayun. Sesaat, ia sadari rangkaian gerbong kereta baru saja melesat. Ada yang aneh. Lututnya terasa sakit, namun tidak di bagian tumit. Heri mengarahkan korek api ke arah kaki. Pilu, ia dapati betis yang sudah hancur terkikis.

“Tadinya saya kelindes itu cuma se-mata kaki. Tapi karena kelamaan sampai nunggu lima hari karena harus bayar dulu, jadinya dipotongnya sampai di atas dengkul,” lanjutnya semakin memilu. 

Selama belum sampai ajal, segala pekerjaan yang halal ia jajal. Mulai mencoba kembali berdagang asongan, jual-beli batu, jual-beli burung, hingga kini ia dagang kelontongan. Kegigihannya menghasilkan sebuah pertemuan dengan Nengsih yang begitu memahaminya. Ya, Nengsih juga adalah seorang tunadaksa yang ia persunting menemani setiap masa.
Selamat 2 Hari Raya 1444 H, Idul Fitri dan Jumat M Selamat 2 Hari Raya 1444 H, Idul Fitri dan Jumat Mubarok, di hari Kartini 2023.

Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.
"Tettttttt!", klakson kereta menderu dari sang pen "Tettttttt!", klakson kereta menderu dari sang pengemudi, seraya terucap thank you kepada Mulyadi (48). Penjaga JPL 737 itu sehari-hari telah bertugas seperti ini selama 2 dasawarsa dengan segala karsa. Setiap 8 jam sekurangnya, ia bergantian melakukan bersama rekan-rekan di kawasan yang memang selalu ramai orang menyeberang. Saat menjelang berbuka apalagi. Para pedagang semakin silih berganti memadati. 

"Saya yang paling lama di sini, sudah 20 tahun lebih mas. Kami kerja sesuai dengan jam kerja yaitu 8 jam, tapi gantian. Kan harus dijaga selama 24 jam. Kadang dapat bagian malam kadang siang. Sekarang seluruh petugas di sini sudah lulus sertifikasi menjadi penjaga pos perlintasan kereta," ucap pria 3 anak itu.

Banyak suka dan dukanya selama 20 tahun bertugas. Ia merasa kini jauh lebih aman dibanding 20 tahun silam. Perhatian serta penghargaan dari perusahaan kepada para penjaga perlintasan pun sudah kerap dilakukan. Jika dulu dipandang hanya sebelah mata, sekarang mereka memiliki hak dan kesejahteraan yang sama.

Tugas Mulyadi tidak terhenti hanya menekankan tombol pintu perlintas. Ia tetap harus berawas apakah ada kendaraan lain yang nekat menerabas. Saat palang tertutup sempurna, ia tetap berdiri untuk menyambut kedatangan kereta api.

Satu hal yang ia sayangkan. Orang-orang masih saja membias saat tombol sudah ditekan keras. Saat itu ia merasa sangat jengkel. Kadang ia harus memekik bahkan lari untuk mencelik. Meski kerap orang menganggapnya rancap, namun banyak orang justru mengapresiasinya karena cakap.

Ia kemudian menjelaskan, orang yang bandel pas posisi 100 meter dari jangkauan, maka ia akan biarkan.

Pernah saat shift malam. "Sudah saya teriakin untuk minggir tapi masih saja nengah. Langsung saya tarik tangannya kemudian saya injak kakinya supaya tidak bisa lanjut jalan. Di samping saya kesal sama orang itu, tapi saya juga senang bisa menyelamatkan nyawanya," kisahnya.

Semua mulai serba digital dan otomatis. Saatnya ia terfikir khawatir suatu saat pekerjaannya akan batal dan terjadi krisis. Akan ada kemungkinan terjadi pengurangan tenaga manusia, lebih lagi usia daranya masih belia.
Kemarin kau lelah berjuang, hari ini kau lampiaska Kemarin kau lelah berjuang, hari ini kau lampiaskan senyum kemenangan. Dengan bangga kau kenakan toga. Dengan sumringah kau genggam ijazah. Dengan tenang, kau berjalan setara sarjana menyalamimu dengan hormat dan riang. 

Banggaku melihat itu semua. Kau berdiri berselempang cendekia setelah berjuang sekian lama. Lelah, penat, air mata, bahkan rasa ingin menyerah telah berhasil tersanggah. Tidak ada yang bisa menghentikanmu kini. Kau miliki tiket untuk mewujudkan mimpi-mimpi. 

Ku harap gelar yang kau sandang menjadikanmu lebih tegar dan berpandang. Sebab keberhasilan akan menyertai orang-orang yang mau terus belajar dan tetap berjuang.
Sri Lestari (41) telah membuktikan dirinya sebagai Sri Lestari (41) telah membuktikan dirinya sebagai pahlawan pendidik Trosari, Tepus, Gunungkidul. Mula warsa dua ribu sesaat usai lulus SMU, ia telah mendidik 22 generasi hingga saat ini. Kini, Bu Sri diamanahi untuk mendampingi sembilan siswa di kelas empat Madrasah Ibtidaiyyah Swasta (MIS) YAPPI TEGALWERU. Dengan predikatnya sebagai sarjana pendidik, membuatnya mendapatkan banyak kepercayaan dari semua kalangan. Namun nyatanya Sri seorang guru honorer. Upahnya sungguh jauh dari giat keluarganya yang butuh.

“Tapi saya yakin rejeki itu datang dari mana saja yang tidak terduga. Alhamdulillah sampai saat ini keluarga kami selalu dalam keadaan sehat,” ucapnya sedikit lirih.

Di sebuah rumah sederhana, ia tinggal bersama sang suami serta masih dengan ibu yang ia cintai. Sang suami sudah tak mampu bekerja lagi kecuali bergulat dengan ternak rumput-rumput yang ia cari. Meski terkesan kurang ekonomi, namun keluarga kecil ini memiliki kesan lebih hati. Apapun dan berapapun hari ini yang ia punya selalu disyukuri.

Tak terbantah banyak orang menyebutnya perempuan tangguh. Saat di sekolah ia menjadi guru yang pencinta, saat di rumah menjadi perempuan perkasa. Pagi-pagi hari ia memasak, menyapu, membantu ibu dan suami sarapan, lainnya seluruh pekerjaan rumah. Selalu saja ia berangkat ke sekolah tepat waktu,  pulang sekolah langsung mencuci dan menatu.
Beberapa orang bisa menikmati kopi hingga 3 (tiga) Beberapa orang bisa menikmati kopi hingga 3 (tiga) kali bahkan lebih dalam sehari. Pada bulan puasa, tentu akan ada sedikit rutinitas ngopi yang berubah. Jika di hari biasa meminum kopi di pagi dan sehabis makan siang, maka selama bulan puasa ritual ngopi hanya bisa dilakukan setelah berbuka puasa hingga menjelang sahur. Namun juga tidak bisa sembarangan minum kopi saat sahur maupun berbuka. 

Idealnya minum kopi pada bulan Ramadan adalah 2 (dua) jam setelah berbuka. Di waktu tersebut tubuh sudah beradaptasi dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi saat berbuka. Meminum kopi sesaat setelah berbuka dengan kondisi perut masih kosong, dikhawatirkan dinding lambung akan mengalami iritasi. Selain bersifat stimulan, kopi juga bersifat diuretik. Ini menyebabkan produksi urine lebih banyak sehingga berisiko mengakibatkan dehidrasi. Maka, saya tidak minum kopi saat sahur.

Jenis kopi yang saya pilih adalah kopi arabika lebih dominan dari robusta. Hal tersebut untuk mengurangi kadar kafein kopi. Selain itu, teman-teman mungkin tetap membutuhkan energi dari kafein untuk dapat melakukan salat tarawih dengan panjang maupun ibadah-ibadah lainnya. 

Metode seduhan yang saya pilih adalah menggunakan tekanan, atau espresso. Sebab saya juga butuh meminum susu selama menjadi bulan puasa. Dengan mengkombinasikan espresso dengan susu maupun tambahan lainnya, saya dapat menikmati berbagai variasi minuman seperti cappuccino, cafe latte, macchiato, flat white, piccolo latte atau yang lain.

Meski begitu, ngopi bukanlah suatu keharusan. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan tubuh agar tetap sehat saat menjalankan puasa.
Bahkan terkadang dijumpai kisah nyata menjadi fikt Bahkan terkadang dijumpai kisah nyata menjadi fiktif, sebaliknya fiktif seolah nyata. Dunia menjadi lembaran-lembaran kanvas untuk dilukis. Sedang panggung sandiwara adalah ruang kosong untuk diisi atau dinafi. 

Hidup orang lain baginya tak ubah dengan drama. Tak sekedar hadir begitu saja, melainkan sebab sengaja atau tak sengaja manusia, namun diolahnya menginggilkan atau mengandapkan. Seolah mencipta sebagai sutradara cerita nyata. 

Drama mungkin begitu saja di kehidupan setiap manusia, namun si pencitra mampu menangkapnya beda hingga yang terlihat legi dan legit, meski miliknya masih pahit. Sehingga sadar sendirinya perlu dikabar dengan tanpa menghadirkan suar.
Seuntai kasih membawakan bahagia. Sepatah kata mem Seuntai kasih membawakan bahagia. Sepatah kata membuat percaya. Seteguk air menghapus dahaga. Seutas harapan mencipta sebuah karsa.

Di hari yang bertabur mimpi, saat sesosok manusia mungil muncul ke dunia ini, ia membawakan kebahagiaan bagi keduanya. 25 kali sudah datang hari ini, saat wanita itu berjuang menjadi seorang pahlawan. Hari di mana orang senang dalam senyuman, dan kau gembira dalam tangisan. 

Kini kau lah pahlawannya. Detik ini kembali berlalu. Sedikit tapi haru. Sebentar dan menerus, kau akan menuju puncak tangga baru dengan membuka lembaran yang masih mulus. 

Kuyakin, kau akan selalu kuat menghadapi berbagai warna kehidupan, di sini aku selalu mendoakan. Untuk kehidupanmu kini, dan nanti. 
Selamat ulang tahun Januwarti N. Aini @januwartiaini

#Setiaptanahadalahrumah
Berbekal tas selempang, sepatu boot, dan sepasang Berbekal tas selempang, sepatu boot, dan sepasang pakaian yang dikenakan, ia berjalan keluar dari rumah kediaman. Diambilnya selembar kain, dililitkan pada kepala. Ia mulai berjalan menyusuri kebun kopi tepat samping rumahnya. Satu per satu buah kopi merah matang ia petik, ia masukkan ke dalam tas, dan mengumpulkannya dalam kaleng-kaleng.

Desa Jaluk Aceh Tengah, menjadi salah satu desa penghasil kopi arabika terbaik se-Nusantara. Hamparan luas perkebunan kopi di Aceh Tengah ini tumbuh di dataran 95.000 hektare di 1200 meteran. Sedang Arabika Gayo telah dinobatkan sebagai komoditi ekspor unggulan di daerah ini. Perkebunan kopi di Desa Jaluk cukup lah luas. Hampir seluruh warga desa bermatapencaharian sebagai petani kopi, entah memiliki lahannya sendiri atau pun mengelola lahan orang lain. Di sana, Kopi bagi mereka adalah bagian besar dari cerita hidup.

Namun sayang, tahun 2013, guncangan 6,2 SR melanda, sebagian besar masyarakat Aceh Tengah terdampak gempa, bahkan puluhan jiwa binasa. Paskanya, banyak warga yang kehilangan pekerjaan sebagai petani kopi, serta masih enggan untuk memulainya kembali.

Termasuk Aisyah, peristiwa itu menjadikannya semakin lemah. Meski begitu, Aisyah berusaha tetap tangguh. Kini ia telah berhasil bertahan dan bangkit hingga mampu menyekolahkan anak-anaknya. 

Sepenggal singkat dari kisahnya, tahun 2014 Aisyah mendapat sokongan dari Dompet Dhuafa, termasuk 100 wanita lainnya. Bantuan di antaranya modal, lahan, pupuk, bimbingan, koperasi, hingga pemasaran. 

“Dulu, hasil panen kopi saya paling cuma 20 kaleng. Sekarang hasilnya bisa bertambah 50 kaleng. Saya biasanya bisa panen sampai 70 kaleng,” ungkapnya.

Mukhlis Ketua Koperasi menyebut Ibu Aisyah adalah sosok wanita dan ibu rumah tangga yang tangguh. Meski diterpa musibah gempa yang menghilangkan harta benda serta pekerjaannya, ia tak putus asa setelahnya. Ia terus berusaha untuk berjuang mencari penghidupan dan membangun rumah baru, hingga ia berhasil menghidupi dan menyekolahkan 3 anaknya.

Ketulusan Aisyah dalam menyayangi dan mengupayakan segala hal untuk keluarga, menjadi api semangat baginya, rekan-rekan anggota lainnya, juga bagi para donatur.
Follow on Instagram
Kisruh

Captivating Accepted Culture for Generation

  • Facebook
  • Instagram
  • YouTube
  • X
  • TikTok

Ecosystem

  • Podcast
  • Promotions
  • Event Management
  • Dashboard

Matters

  • Profile Page
  • Kirim Tulisan
  • Pedoman Media Siber
  • Sudut Pandang

Kisruh.com

Portal media yang menghadirkan cerita, informasi, dan inspirasi seputar komunitas kreatif, musik, seni, serta gaya hidup dengan perspektif yang segar.

Copyright © 2026 · Kisruh.com · All rights reserved

Privacy Policy

Terms and Conditions