Kesan Belajar yang Menyenangkan Bermula di MPLS

Kisruh.com, Jakarta — Pendidikan yang baik tidak selalu dimulai dari buku pelajaran. Terkadang, ia lahir dari sebuah permainan, percakapan hangat, tepuk tangan, simulasi, karya seni, hingga tawa yang dibagikan bersama teman baru.

Suasana seperti itulah yang hadir selama pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMP Negeri 110 Jakarta pada 13–17 Juli 2026. Sebanyak 216 murid baru mengikuti perjalanan awal mereka di bangku SMP melalui pengalaman yang memadukan pendidikan, seni, kreativitas, dan penguatan nilai-nilai sosial.

Berlangsung di aula dan lapangan sekolah, setiap sesi dirancang bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menghadirkan pengalaman yang mampu membangun keberanian, rasa ingin tahu, kepedulian, dan kreativitas para peserta didik.

Kolaborasi antara SMPN 110 Jakarta dan Ragom Muda Indonesia menjadi salah satu kunci lahirnya konsep tersebut. Bersama tim kesiswaan sekolah, seluruh rangkaian kegiatan disusun mengikuti pedoman resmi MPLS RAMAH dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih interaktif dan humanis.

Direktur Ragom Muda Indonesia, Nurbaiti, mengatakan bahwa pendidikan sejatinya merupakan ruang yang menghadirkan kegembiraan, bukan tekanan.

“Di Ragom Muda Indonesia, kami percaya bahwa kegiatan pembelajaran dan pendidikan harus menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi setiap peserta didik. Materi yang baik akan jauh lebih mudah diterima dan diingat ketika disampaikan dengan cara yang kreatif, interaktif, dan penuh kegembiraan. Karena itu, kami selalu berupaya mengemas setiap sesi pelatihan maupun kegiatan pendidikan agar peserta aktif terlibat, berani bertanya, dan pulang membawa pengalaman yang berkesan, bukan sekadar menerima materi.”

Menurutnya, pendekatan kreatif menjadi penting karena pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, melainkan juga membangun rasa percaya diri, empati, dan kemampuan bekerja sama.

Selama lima hari, para siswa memperoleh beragam materi yang memperkaya perspektif mereka. Izzul Fadhil Ihsani, S.Sos, pegiat pendidikan anak dan konsultan pendidikan di Nurul Fikri, mengajak peserta membangun kebiasaan positif melalui Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Syifa Sakinah Nurmeisya, konselor SHINE Consulting, menghadirkan ruang aman bagi siswa untuk berbagi cerita, mengenali emosi, dan membangun relasi sosial yang sehat melalui sesi Ruang Perjumpaan Murid Baru dan Sahabat Hebat: Dengar, Peduli, dan Hargai.

Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan sosial juga diperkuat melalui simulasi Kesiapsiagaan Bencana bersama Tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang dipimpin Muhammad Syaiban, serta edukasi Literasi Digital oleh Riza Muthohar, M.I.Kom, yang mengajak siswa memahami budaya digital secara kritis dan bertanggung jawab. Edukasi mengenai bahaya NAPZA juga diberikan oleh Ahmad Zainuri, S.Sn, sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan remaja.

Nuansa seni semakin terasa pada hari terakhir melalui kegiatan Unjuk Karya Pengelolaan Barang Bekas bersama Hadid Aulia, S.Sos, pendiri AKASIA ART: Recycling Paper Art. Di tangan para siswa, barang-barang bekas tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai media berekspresi. Aktivitas ini memperlihatkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menjadi sarana belajar yang menyenangkan.

Kepala SMP Negeri 110 Jakarta, Iis Ratna Sariningrum, S.Pd., M.M., menilai pendekatan yang digunakan selama MPLS berhasil menghadirkan pengalaman pertama yang positif bagi seluruh peserta didik.

“Kami bersyukur seluruh rangkaian MPLS berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman yang positif bagi seluruh peserta didik baru. Kolaborasi dengan Ragom Muda Indonesia menghadirkan suasana belajar yang lebih hidup, interaktif, dan sesuai dengan semangat MPLS RAMAH. Kami berharap seluruh siswa dapat memulai perjalanan belajar di SMPN 110 Jakarta dengan rasa percaya diri, nyaman, dan memiliki karakter yang baik.”

Bagi para siswa, MPLS tahun ini bukan sekadar masa orientasi. Azmi mengaku awalnya merasa gugup karena memasuki lingkungan yang sama sekali baru. Namun, suasana kegiatan yang cair membuatnya cepat beradaptasi.

“Awalnya saya deg-degan karena belum punya teman. Tapi setelah ikut semua kegiatan, ternyata seru sekali. Kakak-kakak fasilitator dan para pemateri membuat kami berani bertanya, bermain, dan belajar bersama.”

Hal serupa dirasakan Azizah. Baginya, MPLS justru menjadi ruang untuk menemukan keberanian sekaligus menikmati proses belajar.

“Yang paling saya suka karena acaranya tidak membosankan. Banyak permainan, diskusi, praktik langsung, dan kegiatan kreatif. Saya jadi lebih mengenal teman-teman baru dan semakin semangat sekolah.”

Di tengah berbagai tantangan dunia pendidikan saat ini, pelaksanaan MPLS SMPN 110 Jakarta menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang sosial yang hangat sekaligus ruang kreatif yang membebaskan anak untuk berekspresi. Ketika seni, empati, permainan, dan pendidikan dipadukan dalam satu pengalaman belajar, orientasi sekolah tidak lagi menjadi rutinitas tahunan semata, tetapi menjadi momen yang menumbuhkan karakter, memperkuat hubungan antarmanusia, dan menanamkan kecintaan terhadap proses belajar sejak hari pertama.

Categories: