Kisruh.com, Jakarta — Ada masa ketika ruang kelas hanya diisi suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis. Kini, perlahan suasana itu berubah. Visual bergerak, ilustrasi interaktif, hingga video pembelajaran mulai mengambil tempat sebagai bagian dari pengalaman belajar generasi baru.
Pemerintah mencatat, penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) dalam Program Digitalisasi Pembelajaran membawa dampak positif bagi siswa. Berdasarkan evaluasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 98 persen siswa mengaku lebih mudah memahami materi pelajaran, sementara 99,5 persen menyebut proses belajar menjadi jauh lebih menarik.
Angka tersebut bukan hanya berbicara soal teknologi. Angka itu juga menunjukkan bagaimana bahasa visual semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang kelas. Temuan itu disampaikan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dalam konferensi pers mengenai Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Jakarta, Kamis (02/07/2026). Menurutnya, penggunaan PID kini semakin dirasakan manfaatnya oleh siswa maupun tenaga pendidik di berbagai daerah.
Generasi yang tumbuh bersama layar ponsel, video pendek, ilustrasi digital, dan budaya internet memiliki cara berbeda dalam menyerap informasi. Mereka tak lagi hanya membaca, tetapi juga mengamati, mengeksplorasi, dan berinteraksi dengan berbagai bentuk visual.
Di titik inilah Papan Interaktif Digital menjadi lebih dari sekadar perangkat elektronik. Ia membuka kemungkinan baru bagi guru untuk mengajar seperti seorang storyteller, menggabungkan gambar, warna, animasi, suara, hingga simulasi yang membuat pelajaran terasa lebih hidup.
Bagi dunia kreatif, perkembangan ini menarik untuk diamati. Desain grafis, ilustrasi, motion graphic, fotografi, bahkan produksi video edukasi berpotensi menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan masa depan. Belajar tidak lagi hanya bergantung pada teks, tetapi juga pada bagaimana sebuah cerita disampaikan secara visual.
Meski begitu, teknologi tetap bukan tokoh utama. Pengalaman belajar yang bermakna masih lahir dari guru yang mampu membangun dialog, rasa ingin tahu, dan ruang eksplorasi bagi murid-muridnya. Layar digital hanya menjadi kanvas baru untuk menyampaikan ide.
Transformasi ruang kelas pada akhirnya mencerminkan perubahan budaya yang lebih besar. Cara manusia belajar terus berevolusi, mengikuti bahasa zamannya. Dan hari ini, bahasa itu semakin dekat dengan visual, kreativitas, dan pengalaman yang imersif.
Mungkin, masa depan pendidikan bukan tentang mengganti papan tulis dengan layar. Melainkan tentang bagaimana seni bercerita, desain, dan teknologi bertemu untuk membuat belajar terasa lebih manusiawi.





